Mengenal Topeng Malangan

Sabtu pagi (21/02), 15 mahasiswa peserta Progam Bunga 2015 ISP MCE, berkumpul di salah satu gedung kampus STIE Malangkucecwara. Kali ini mereka akan coba untuk lebih mengenal seni budaya lokal, yakni Topeng Malangan. Bukan dalam bentuk tariannya melainkan lebih ke bentuk fisik topengnya. Dibawah bimbingan mas Handoyo dari Padepokan Asmoro Bangun Pakisaji-Malang, para mahasiwa diajak mewarnai topeng malangan seusai dengan tokoh topeng masing-masing.

Walau hanya sekedar mewarnai saja namun itu sudah membuat mereka (para mahasiswa) begitu tertarik dan antusias mengikuti kelas budaya hari ini. Apalagi mas Handoyo juga sedikit banyak menceritakan tokoh-tokoh dan karakter dari topeng yang sedang mereka warnai.

Walau hanya sekedar mewarnai, sekarang mereka mengetahui, melihat secara langsung dan mendengar kisahnya bahwa di Malang (tempat mereka berada saat ini) juga memiliki seni tradisional dengan ciri khas tersendiri yang tidak biasa mereka temui di negara mereka.

Diawal kelas mereka terlihat senang menerima topeng kayu berbahan kayu sengon yang disediakan oleh mas Handoyo. Sembari mendegarkan penjelasan, mereka mulai asik memainkan kuas dan warna-warni untuk mewarnai topeng yang ada ditangan mereka. Ada yang mengerjakan dengan cepat, ada yang perlahan dan berusaha untuk berhati-hati. Namun sebagian besar dari mereka mereka menyerah dan kesulitan waktu tiba saatnya mewarnai mata serta alis topeng Malangan. Akhirnya sambil senyum-senyum mas Handoyo menerima permintaan beberapa mahasiswa yang ingin diperbaiki pewarnaannya.

Tak hanya sampai disitu, di akhir kelas pewarnaan ini, mas Handoyo mengajak para mahasiswa dari Jepang ini untuk juga mengenal sedikit gerakan dari Topeng Malangan. Walau hanya beberapa menit dan hanya beberapa gerakan saja, mereka tampak menikmati dan senang mengikuti setiap gerak yang dicontohkan oleh mas Handoyo.
Semoga saja apa yang telah mereka dapatkan hari ini bisa berkesan dan menjadi kenangan yang tak terlupakan sekembalinya mereka ke Jepang nanti…

sumber: http://www.malangflash.com/ispmce

Sekilas Program Bunga 2015

Oleh: Bpk. Suyoto (Associate Profesor Kanda University of International Studies, Japan)

Bpk. Suyoto

Bpk. Suyoto

Program pembelajaran bahasa dan budaya bagi penutur asing (BIPA) “PROGRAM BUNGA 2015” ISP MCE adalah program pembelajaran reguler-intensif, angkatan ke-16.   Program ini dirancang dengan model “dual-system” sebagai realisasi kerja sama antara ISP MCE dan Program Studi Bahasa Indonesia, Jurusan Bahasa Asia, Kanda University of International Studies (KUIS) Jepang yang dimediatori oleh SHINKO Overseas Management Consulting Inc.

Program Bunga 2015 diikuti oleh 15 orang peserta yang semuanya berasal dari Kanda University of International Studies (KUIS).   Para peserta sudah belajar bahasa Indonesia di kampus KUIS selama satu tahun akademik dan kedatangannya ke ISP MCE dimaksudkan untuk meningkatkan kompetensi berbahasa Indonesia serta mengenali sejumlah fenomena sosio-kultural Indonesia khususnya di wilayah Malang Raya dan sekitarnya.
Guna memberikan nilai pembelajaran yang nyata dan optimal, ISP MCE merancang model pembelajaran “CELUP TOTAL”, yaitu pembelajaran yang melibatakan dan menggaulkan pembelajar secara langsung dan kontekstual.   Oleh karena itu, selama lebih kurang satu bulan efektif di ISP MCE, setiap pembelajar selain didampingi dengan seorang peer-tutoe juga ditempatkan di keluarga Indonesia.   Dengan model ini, diharapkan pembelajar bisa memeroleh pengalaman belajar yang benar-benar objektif, kontekstual dan bermakna karena melibati dan mengalami sendiri.

Sementara itu, untuk memberikan pemahaman terhadap fakta kehidupan masyarakat dan kebudayaan, ISP MCE melengkapi kegiatan programnya dengan kegiatan kelas luar, kelas sosial, kunjungan budaya dan ekskursi.   Diantaranya kegiatan kelas luar ke masyarakat pedesaan dan ekskursi ke Gunung Bromo dan masyarakat Tengger.   Pemberdayaan sejumlah kegiatan diatas, disamping untuk memberikan pemandangan dan pemahaman umum tentang kondisi objektif masyarakat dan bangsa Indonesia, juga dijangkaukan untuk memberikan pengalaman praktis berbahasa dan berbudaya Indonesia.   Hal ini sangat disadari oleh ISP MCE bahwa pembelajaran bahasa Indonesia tanpa dilengkapi dengan penyertaa atau pemberdayaan unsur-unsur dan nilai-nilai sosio-budaya tidak akan mampu memberikan kinerja belajar yang optimal.

Di samping sejumlah kegiatan yang dikemas sebagai target formal di atas, dalam upaya memberikan layanan di bidang pengembangan minat dan bakat, peserta juga dipajankan dengan objek seni-budaya bangsa Indonesia yang dikemas sebagai kelas pilihan.   Kelas pilihan ini bersifat opsional sehingga pembelajar bisa memilih sesuai dengan bakat dan minat masing-masing.   Kelas pilihan yang ditawarkan kepada pembelajar Program Bunga 2015 kali ini antara lain Pencak Silat, Batik dan Tari tradisional.

Sebagai tolak ukur kinerja program dan pembeleajaran, pada akhir program, pembelajar berkesempatan untuk unjuk kebolehan dalam acara pisah kenang yang akan digelar pada akhir program (13 Maret 2015) yang sekaligus digelar sebagai acara penutupan program.
Kepercayaan KUIS kepada ISP MCE dalam layanan dan kinerja pembelajaran yang terealisasi lewat program BIPA sejak 2002 kini ditingkatkan dengan program pertukaran mahasiswa.   Dari September 2014, KUIS telah mengirimkan seorang duta mahasiswanya untuk belajar di MCE selama satu tahun.   Dan, berdasarkan hasil penilaian selama satu semester berjalan, pada tahun kedua (2015) KUIS telah memutuskan untuk memercayakan dua orang mahasiswanya ke MCE.   Ini merupakan bukti nyata bahwa sebagai DUTA BANGSA, ISP MCE bersungguh-sungguh untuk menjadi jembatan penghubung antara INdonesia dan Jepang melalui program-programnta di kampus tercinta ini.

sumber: http://www.malangflash.com/ispmce