Tahun Baru ala Jepang, Menyantap Bubur 7 Daun Suci di 7 Hari Tahun 2017

Nanakusa-gayu, bubur nasi untuk tahun baru

Nanakusa-gayu, bubur nasi untuk tahun baru

Reportase Maika Janesi Yoshinaga
Mahasiswa BIPA ISP Malangkucecwara

JEPANG, mempunyai begitu banyak upacara yang bergantung pada empat musim yang berbeda. Tak heran jika orang Jepang selalu mengikuti beberapa upacara di setiap musim, dari musim semi, panas, gugur, dan dingin.

Kuliner adalah salah satu elemen penting dalam upacara untuk menunjukkan kebudayaan khas orang Jepang. Budaya kuliner untuk setiap musim memberi arti tersendiri bagi kehidupan orang Jepang.

Pun di perayaan tahun baru tanggal 1 Januari di musim dingin juga mempunyai upacara sangat istimewa dan penting bagi orang Jepang. Bagi orang Jepang, upacara tahun baru bisa berlangsung selama seminggu, dari tanggal 1 hingga 7 Januari.

Ketika tahun baru, tepat tanggal 1 Januari, banyak orang Jepang melaksanakan budaya kuliner khas Jepang, yaitu makan osechi. Yakni, masakan di atas wadah tradisional Jepang untuk tahun baru, yang disantap bersama keluarga.

Selain itu, ada masakan khusus untuk tanggal 7 Januari sebagai penutup tahun baru yang disebut nanakusa-gayu, bubur yang dimasak dangan daun-daun herbal.

Ciri khas bubur nanakusa-gayu adalah dimasak dengan tujuh jenis daun herbal, yakni daun seri, nazuna, hakopela, suzuna, suzushilo, hotokenoza, dan gogyou.

Sayangnya, daun-daun herbal ini sulit ditemukan di Indonesia. Ada cerita yang menjelaskan asal usul daun herbal yang digunakan untuk upacara di tanggal 7 Januari ini.

Sebenarnya kuliner ini berasal dari China sekitar seribu tahun di masa kepemimpinan zaman Heian. Setiap daun herbal mempunyai arti untuk harapan akan kedamaian, kesejahteraan, serta kesehatan keluarga. Sebagian artinya ada hubungan dengan agama Buddha, sebab mayoritas orang Jepang beragama Buddha.

Cara memasak bubur nanakusa-gayu sebenarnya sangat sederhana. Orang Jepang merebus beras dengan tujuh jenis daun herbal tersebut sampai kental. Namun, jenis daun herbal bisa berubah bergantung pada daerah, kendati hal ini sangat jarang terjadi.

Orang-orang bisa menambahkan bumbu dan kaldu ikan agar bubur lebih gurih sesuai selera masing-masing.

Sayangnya saat ini, sudah tidak banyak lagi warga Jepang yang mengonsumsi bubur nanakusa-gayu sebagai kuliner khas di tahun baru.

Akan tetapi, ketika saya duduk di sekolah dasar dan sekolah menengah beberapa tahun silam, sekolah-sekolah di Jepang menyediakan masakan tersebut sebagai bekal makan siang di sekolah. Oleh karena itu, meski anak-anak tak bisa mencicipi kuliner tahun baru di rumah, mereka bisa belajar sejarah dan budaya kuliner Jepang sambil makan siang bubur nanakusa-gayu di sekolah.

Ini sistem sekolah yang sangat efektif dan bertujuan agar anak-anak mempunyai kesadaran sebagai warga Jepang. Nah, tahun baru 2017 yang tinggal beberapa hari ini adalah waktu tepat untuk mencoba bubur nanakusa-gayu!

Selamat tahun baru, semoga kebahagiaan menyertai kita semua sepanjang tahun 2017.

sumber: http://surabaya.tribunnews.com/2016/12/26/tahun-baru-ala-jepang-menyantap-bubur-7-daun-suci-di-7-hari-tahun-2017

Mengunjungi Sensouji sang Legenda Jepang

Kuil Sensjouji

Kuil Sensjouji

Reportase Kanei Yuta
Mahasiswa Darmasiswa ISP Malangkucecwara Malang dari Universitas Kanda Gaigo, Jepang

SETIAP tahun, ada sekitar 30 juta orang, wisatawan domestik dan mancanegara mengunjungi Sensouji, kuil kondang yang terletak di Asakusa, Kota Tokyo, Jepang.

Bagi orang Jepang sendiri, Sensouji bukan sekadar kuil. Mereka menyebut Sensouji sebagai kuil sekaligus area di sekitar kuil. Untuk pergi ke sana, hanya butuh waktu 30 menit dari stasiun Tokyo dengan memakai kereta listrik Ueno Tokyo JR dan Ginza Tokyo Metro.
Sensouji terbagi dalam tiga bangunan pokok, yaitu Kaminarimon di bagian depan, pertokoan di area kedua, dan kuil utama dengan patung Kannon di dalamnya.

Kaminarimon merupakan pintu gerbang Sensouji. Atau, biasa disebut Huujinn-Raijin-mon. Huujin merupakan dewa yang menguasai angin, sedangkan dewa yang merajai guntur dijuluki dengan Raijinn.

Di depan pintu gerbang masuk Sensouji ini terdapat dua patung yang terlihat seperti menunggu dengan khidmat wisatawan yang datang berkunjung.
Begitu wisatawan melewati area Kaminarimon, sedikit demi sedikit mereka bisa melihat pertokoan yang sangat ramai di area kedua ini. Pertokoan Sensouji sudah berdiri sekitar 330 tahun lalu. Tak pelak, inilah area pertokoan terkuno di Jepang.

Nenek moyang para pemilik toko di sana adalah para tukang bersih-bersih kuil karena mereka adalah orang pertama yang menempati daerah tersebut. Mereka mendapat izin untuk mulai melakukan perdagangan di Sensouji dari Bakuhu, yaitu pemerintah Jepang pada zaman dahulu sebagai hak istimewa tukang bersih-bersih kuil.

Di tempat itu juga, pengunjung bisa melihat sejarah panjang Jepang zaman dulu yang digambar di dinding pertokoan sepanjang 400 meter.
Usai berjalan-jalan di pertokoan Sensouji, wisatawan bisa meuju ke lokasi ketiga, yaitu kuil besar berwarna merah. Kuil itu memiliki sejarah yang paling panjang dari seluruh kuil yang ada di pusat Kota Tokyo.

Setiap pengunjung Sensouji pasti terpesona dengan aura yang terpancar dari kuil. Di dalam kuil tersebut, patung Kannon, yaitu salah satu jenis patung Buddha terletak di sana. Orang-orang berdatangan berdoa kepada patung tersebut.

Di depan kuil terdapat asap yang keluar dari pot besar. Banyak pengunjung menganggap, asap tersebut sebagai obat yang menyembuhkan sakit badan mereka yang menyentuhnya. Boleh percaya, boleh tidak, jika itulah salah satu misteri di Sensouji.

Hanya ada satu cara untuk membuktikan kebenarannya, yakni dengan mengunjungi sendiri sang legenda Jepang, kuil Sensouji ini.

sumber: http://surabaya.tribunnews.com/2016/12/08/mengunjungi-sensouji-sang-legenda-jepang