Nanakusa-gayu, bubur nasi untuk tahun baru
Nanakusa-gayu, bubur nasi untuk tahun baru

Reportase Maika Janesi Yoshinaga
Mahasiswa BIPA ISP Malangkucecwara

JEPANG, mempunyai begitu banyak upacara yang bergantung pada empat musim yang berbeda. Tak heran jika orang Jepang selalu mengikuti beberapa upacara di setiap musim, dari musim semi, panas, gugur, dan dingin.

Kuliner adalah salah satu elemen penting dalam upacara untuk menunjukkan kebudayaan khas orang Jepang. Budaya kuliner untuk setiap musim memberi arti tersendiri bagi kehidupan orang Jepang.

Pun di perayaan tahun baru tanggal 1 Januari di musim dingin juga mempunyai upacara sangat istimewa dan penting bagi orang Jepang. Bagi orang Jepang, upacara tahun baru bisa berlangsung selama seminggu, dari tanggal 1 hingga 7 Januari.

Ketika tahun baru, tepat tanggal 1 Januari, banyak orang Jepang melaksanakan budaya kuliner khas Jepang, yaitu makan osechi. Yakni, masakan di atas wadah tradisional Jepang untuk tahun baru, yang disantap bersama keluarga.

Selain itu, ada masakan khusus untuk tanggal 7 Januari sebagai penutup tahun baru yang disebut nanakusa-gayu, bubur yang dimasak dangan daun-daun herbal.

Ciri khas bubur nanakusa-gayu adalah dimasak dengan tujuh jenis daun herbal, yakni daun seri, nazuna, hakopela, suzuna, suzushilo, hotokenoza, dan gogyou.

Sayangnya, daun-daun herbal ini sulit ditemukan di Indonesia. Ada cerita yang menjelaskan asal usul daun herbal yang digunakan untuk upacara di tanggal 7 Januari ini.

Sebenarnya kuliner ini berasal dari China sekitar seribu tahun di masa kepemimpinan zaman Heian. Setiap daun herbal mempunyai arti untuk harapan akan kedamaian, kesejahteraan, serta kesehatan keluarga. Sebagian artinya ada hubungan dengan agama Buddha, sebab mayoritas orang Jepang beragama Buddha.

Cara memasak bubur nanakusa-gayu sebenarnya sangat sederhana. Orang Jepang merebus beras dengan tujuh jenis daun herbal tersebut sampai kental. Namun, jenis daun herbal bisa berubah bergantung pada daerah, kendati hal ini sangat jarang terjadi.

Orang-orang bisa menambahkan bumbu dan kaldu ikan agar bubur lebih gurih sesuai selera masing-masing.

Sayangnya saat ini, sudah tidak banyak lagi warga Jepang yang mengonsumsi bubur nanakusa-gayu sebagai kuliner khas di tahun baru.

Akan tetapi, ketika saya duduk di sekolah dasar dan sekolah menengah beberapa tahun silam, sekolah-sekolah di Jepang menyediakan masakan tersebut sebagai bekal makan siang di sekolah. Oleh karena itu, meski anak-anak tak bisa mencicipi kuliner tahun baru di rumah, mereka bisa belajar sejarah dan budaya kuliner Jepang sambil makan siang bubur nanakusa-gayu di sekolah.

Ini sistem sekolah yang sangat efektif dan bertujuan agar anak-anak mempunyai kesadaran sebagai warga Jepang. Nah, tahun baru 2017 yang tinggal beberapa hari ini adalah waktu tepat untuk mencoba bubur nanakusa-gayu!

Selamat tahun baru, semoga kebahagiaan menyertai kita semua sepanjang tahun 2017.

sumber: http://surabaya.tribunnews.com/2016/12/26/tahun-baru-ala-jepang-menyantap-bubur-7-daun-suci-di-7-hari-tahun-2017

Tahun Baru ala Jepang, Menyantap Bubur 7 Daun Suci di 7 Hari Tahun 2017